Minggu, 30 Oktober 2011

belajar dari seorang tukang sampah


di suatu minggu pagi, ketika saya sedang membersihkan mobil, ada seorang tukang sampah dan seorang pemulung tengah melakukan aktivitasnya.
saya tidak begitu menyimak obrolan mereka, tapi ada sebuah obrolan yang cukup bermakna dan sempat terekam telinga saya.
kurang lebih obrolannya seperti ini.

pemulung: "rajin amat lo?"

tkg sampa: "iya nih. namanya juga nyari rejeki. lagian udah dibayar 200ribu per bulan ama yang punya tempat sampah ini, kalo gak diberesin ampe bersih gak enak."

pemulung: "oh gitu yah. banyak gak sih sampah disini?"

tkg sampah: "ya lumayan. lo kalo mau sering-sering aja nyamperin tempat sampah ini, banyak karton sama botol-botol biasanya."

pemulung: "iya deh, yaudah, lanjut yah."

kemudian pemulung itu berlalu, meninggalkan tukang sampah yang sedang memunguti sampah menggunakan senjata andalannya.
saya baru pertama bertemu tukang sampah di kompleks ini, dan menurut saya penampilan tukang sampah ini lumayan memenuhi standar; baju khusus seperti wearpack, sepatu boots dari plastik, masker hidung, sarung tangan, dan topi.

saya cukup terharu mendengar dia menjawab pertanyaan dari pemulung, tanpa sedikit pun nada mengeluh. dan saya cukup tertampar ketika dia bilang "udah dibayar 200ribu per bulan, gak enak kalo gak diberesin ampe bersih."
saya merasa tukang sampah ini adalah sosok yang cukup amanah dan berdedikasi pada pekerjaannya, walaupun gajinya tidak seberapa besar.
banyak dari kita yang berpenghasilan 10x lebih besar daripada tukang sampah ini yang sering mengeluh karena pekerjaan kantornya. coba deh ingat-ingat lagi, apakah pernah kita berucap syukur atau bekerja penuh dedikasi dan amanah? seperti misalnya berucap "iya yah, gue udah digaji 5juta ama perusahaan buat ngerjain ini, gue gak boleh seenak jidat ngerjainnya."
saya sendiri bahkan jauh dari kata itu. saya sering, sangat sering mengeluh tentang pekerjaan saya. sampai akhirnya saya tersadarkan dengan obrolan tukang sampah dan pemulung barusan. dia cuma seorang tukang sampah, yang pekerjaannya berdekatan dengan sesuatu yang menjijikkan, dan gaji hanya 200ribu perbulan dengan konsekuensi membersihkan tempat sampah setiap hari, tapi mampu menunjukkan dedikasinya terhadap pekerjaan.
sedangkan kita yang menerima gaji lebih besar, dengan pekerjaan yang tidak menjijikan, mustinya harus bisa lebih amanah daripada tukang sampah tersebut. segala sesuatu yang dilakukan sepenuh hati pasti akan berbuah manis, dan Tuhan pasti akan lebih mencurahkan rezeki bagi umatNya yang senantiasa bersyukur dan berdedikasi terhadap apa yang dia kerjakan. sekedar mengingatkan, bukankah bekerja juga ibadah? apakah ibadah kita akan selalu dipenuhi dengan keluhan dan tanpa rasa bersyukur?

mungkin Tuhan mengingatkan saya untuk mensyukuri apa yang saya dapat. dan ini merupakan pembelajaran yang cukup berarti bagi saya yang hobinya mengeluh dan mengeluh. kadang, Tuhan memberikan pelajaran bukan hanya ketika kita berada di bangku sekolah. tapi pada keseharian kita. karena hidup sendiri adalah proses belajar yang tidak berkesudahan. semoga kita selalu menjadi orang yang selalu bersyukur.



xoxo,